Jelang HUT ke-78 RI, UB kukuhkan dua profesor lintas ilmu
Elshinta.com, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur kembali mengukuhkan dua profesor lintas ilmu dalam bidang ilmu Kebijakan Publik dan bidang Ilmu Sosiologi Pertanian, Minggu (13/8) di Gedung Samantha Krida.
Elshinta.com - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur kembali mengukuhkan dua profesor lintas ilmu dalam bidang ilmu Kebijakan Publik dan bidang Ilmu Sosiologi Pertanian, Minggu (13/8) di Gedung Samantha Krida.
“Ada dua orang masing-masing Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D dari Fakultas Pertanian dan Prof. Drs. Andy Fefta Wijaya MDA., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Administrasi & bisnis (FIA)," kata Kabag Humas dan Kearispan UB, Kotok Guritto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El-Aris, Jumat (11/8).
Dijelaskan Kotok, Prof. Mangku Purnomo dikukuhkan sebagai profesor aktif ke 31 di Fakultas Pertanian (FP) dan profesor aktif ke 174 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 328 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Univesitas Brawijaya. Sedangkan Prof. Andy Fefta Wijaya dikukuhkan sebagai profesor aktif ke 14 di Fakultas Administrasi (FlA) dan profesor aktif ke 175 di Universitas Brawijaya serta menjadi profesor ke 329 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Univesitas Brawijaya.
Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D dalam orasi ilmiahnya, berjudul ”Perhebat Pembangunan Pertanian Dengan Pendekatan Tekno - Saintifik Progresif” menjelaskan, “Paska reformasi, pendekatan Teknokratik dan saintifik cenderung ditinggalkan dalam perumusan kebijakan pembangunan termasuk di sektor pertanian, hasilnya, kebijakan menjadi tidak akurat dimana pedesaan tetap menyumbang angka kemiskinan, stunting, dan illiterasi tertinggi.” ungkapnya.
Pada kasus tersebut, pendekatan yang digunakan adalah Tekno-saintifik Progresif (TsP), yang merupakan proses rekontruksi konsep-konsep populer dalam pembangunan pertanian seperti konsep kawasan, level gerakan, aktor, kelompok, kelembagaan usaha, serta konsep belajar petani/penyuluhan.
“Tekno-saintifik Progresif (TsP) memungkinkan konsep-konsep utama yang digunakan dalam pembangunan pertanian menjadi konsep yang “hidup” yang terus menyesuaikan dengan dinamika sosial ekonomi masyarakat sehingga selalu relevan digunakan” ujarnya.
Terdapat tiga tahap Tekno-saintifik Progresif (TsP) yaitu rekontruksi konsep, modeling konsep, dan strategi implementasi pada skala tapak, ketiga tahapan ini sangat berguna untuk memastikan program pembangunan menjadi lebih akurat dan efisien, karena mendarat dengan akurat pada masyarakat sasaran.
“Akurasi inilah yang akan menjadi kunci bagi keberhasilan suatu program pembangunan pertanian,” tandasnya.
Sementara itu, Prof. Drs. Andy Fefta Wijaya., Ph.D dalam orasi ilmiahnya, “Kebijakan Publik Dalam Model Collaborative Governance Plus Multi Helix” menjelaskan, “pengembangan kebijakan publik dalam model collaborative governance plus multi helix (CGPMH) adalah sebuah kerangka kerja yang menggabungkan pendekatan kolaboratif dan melibatkan aktor helix diberbagai sektor dalam kebijakan publik.”.
Kekuatan utama dari Collaborative Governance Plus Multi Helix (CGPMH) ini adalah masing-masing pemangku kepentingan membawa pengetahuan, pengalaman, dan perspektif yang unik dalam kebijakan public sedangkan kelemahannya dapat menghabiskan waktu dan sumber daya yang cukup lama, serta memerlukan kemampuan tata kelola yang baik dalam melibatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka mencapai kesepakatan bersama.
“Model ini juga mengakui pentingnya pembelajaran, eksperimen, dan evaluasi berkelanjutan dalam kebijakan public, dengan melibatkan pemangku kepentingan yang berbeda, model ini memungkinkan pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan pembelajaran sehingga kebijakan publik berkualitas dapat terus berkembang, diperbaiki, dan disesuaikan dengan perubahan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” ringkasnya.